Pada peringatan 17 Agustus tahun ini, Kampung Kadabra tidak melaksanakan kegiatan seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu lomba 17-an. Tadinya para pemuda Karang Taruna sudah dikumpulkan untuk menjadi panitia 17-an. Namun Pemerintah setempat menghimbau para warganya untuk tidak mengadakan lomba, dikarenakan pandemi Covid-19 yang belum mereda.
Berbeda dengan kampung sebelah, Kampung Abra. Sudah dari jauh-jauh hari mempersiapkan lomba 17-an yang dapat diselenggarakan secara online. Seperti lomba menulis cerpen, poster kemerdekaan, konten Tiktok, dan banyak lainnya. Menariknya puncak acara perayaan 17-an kali ini adalah penampilan sulap dari salah satu pesulap yang belakangan dibicarakan warga. Menurut keterangan warga, permainan pesulap ini begitu menakjubkan. Maka tak heran, karang taruna kampung Abra tertarik untuk mengundang pesulap ini di acara puncak perayaan 17-annya. Pesulap itu bernama Joe.
---
Tanggal 17 Agustus di waktu malam hari setelah waktu Isha, Karang Taruna Kampung Abra sudah membagikan tautan room zoom di grup Whatsapp Kampung Abra. Di room tersebut, para warga Kampung Abra dapat menyaksikan puncak acara perayaan 17-an. Kurang lebih pukul 19.45 acara dimulai, dibuka dengan sambutan Pak Bejo selaku ketua RT dan Ilham selaku ketua panitia 17-an.
Puncak acara pun tiba, dengan berlatarkan hitam polos, Joe mulai memainkan trik sulapnya. Dimulai dari permainan kartu hingga permainan angka. Para warga yang menyaksikan begitu terpukau melihat permainan sulap Joe. Sebelum menutup permainan sulapnya, Joe akan menampilkan permainan pamungkasnya, yaitu sebuah permainan hipnotis.
Para warga yang hadir dalam room zoom diperintahkan Joe untuk fokus melihat ke layar mereka masing-masing. Di balik layar, Joe menampilkan sebuah gambar ilusi melingkar, sambil menghitung dari angka satu sampai sepuluh. Perlahan demi perlahan para warga yang menyaksikan tertidur lelap..
---
Malam itu Ical bersama anggota gengnya, Usep, Bekti, dan Dodi sedang berkumpul di pos ronda kampung Kadabra. Secara diam-diam mereka mendapatkan akses ke room zoom puncak acara 17-an kampung Abra. Dari penampilan awal hingga sesi sebelum hipnotis, mereka berempat begitu terpukau melihat permainan sulap Joe.
Namun secara tidak sengaja, saat penampilan pamungkas Joe berlangsung, mereka berempat tiba-tiba dihampiri anjing liar yang sedang mengamuk. Secara spontan mereka lari terbirit-birit untuk menghindari gigitan anjing. Kata warga anjing itu rabies.
“Anjing tuh binatang, bikin jantungku hampir copot!” ucap Ical dengan nafas terseok-seok.Setelah berhasil berlindung dari anjing gila itu, mereka berempat kembali melihat layar HP milik Ical untuk menyaksikan penampilan Joe yang sedang menghipnosis para warga. Mereka kaget melihat para warga sudah tertidur lelap di depan kamera laptop ataupun handphone masing-masing.
“Lah memang itu anjing kan cal?” saut Usep yang berusaha memvalidasi ucapan Ical.
“Waduh cal, itu kok pada tidur yang nonton. Ada apa ya?” Tanya BektiTanpa disengaja mereka berempat menyaksikan penampilan tersebut, tidak mengaktifkan fitur microphone maupun kamera. Joe yang beranggapan bahwa para warga sudah tertidur lelap dibawah pengaruh hipnotisnya, salah sangka.
“Tadi sebelum kita dikejar anjing gila itu, Joe bilang dia mau menampilkan permainan hipnotis sih. Mungkin ini bagian dari permainannya” Jawab Ical yang sebenarnya juga masih terheran-heran.
Keteledoran dilakukan Joe, ia lupa mematikan microphone-nya. Saat itu ia langsung menghubungi kawanannya menggunakan walkie talkie.
“Serigala,serigala… Para warga telah tertidur lelap. Silahkan berpesta malam ini, ganti.” kata Joe pada walkie talkie-nya
“Serigala disini, kami siap berpesta malam ini, ganti.” jawab pimpinan serigala Joe yang ternyata sudah berkumpul di sekitar kampung Abra dari beberapa jam sebelumnya, namanya Didit.
---
Ical dan geng-nya merasa ada yang janggal atas perilaku Joe. Mereka memikirkan apa yang dimaksudkan Joe ketika berbicara pada walkie talkie-nya.
“Kayaknya ini ada sesuatu yang nggak beres..” kata Usep yang terheran-heran dengan wajah planga-plongonya
“Ah nggak beres bagaimana Sep? Aku masih belum paham” tanya Ical yang masih kebingungan dengan maksud Usep.
“Kamu lihat, sekarang para warga kampung Abra tertidur? Ini sudah hampir lebih dari 15 menit dan Joe belum juga membangunkan para warga. Malahan, ia berbicara kepada walkie-talkie itu. Seperti sebuah kode yang dipesankan kepada seseorang di luar sana” jawab Usep dengan wajah yang meyakinkan serta menghapus wajah planga-plongonya.Pembicaraan pun hening sejenak. Ical berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya, Usep dengan gaya khasnya sambil mengupil, Dodi sambil menghisap sebatang tembakaunya dan Bekti sambil memainkan jari-jarinya.
“Wah iya ya, apa maksudnya ya Joe berbicara di walkie-talkie tadi?” tanya Dodi yang sedari tadi sibuk membalas pesan Whatsapp dari emaknya.
“Aku paham sekarang! Jika aku tidak salah, aku pikir ini adalah modus perampokan besar-besaran. Bisa jadi yang dimaksud serigala itu adalah kawanannya Joe yang sedang beraksi untuk mendatangi kampung Abra..” kata Bekti dengan semangatnya.
“Apa kau yakin dengan pikiranmu itu Bek?” tanya Ical
“Aku sungguh yakin Cal. Bagaimana kita telfon kantor polisi sekarang juga?” jawab Bekti dengan handphone sudah ditangannya yang bergegas ingin menelpon.
“Ya sudah, kita laporkan ini ke polisi. Telpon sekarang juga!” pinta Ical
---
“Selamat malam, kami dari Polsek Sukun. Ada yang bisa kami bantu?” jawab seorang polisi dibalik teleponnya.
“Selamat malam pak, saya Bekti warga kampung Kadabra. Saya mau melapor bahwa terjadi kegiatan perampokan di kampung Abra. Para warga sudah dibawah pengaruh hipnotis, sehingga kemungkinan akan terjadi perampokan besar-besaran pak!” kata Bekti dengan tempo bicara yang cepat.
“Baik, dengan saudara Bekti kalau saya tidak salah ini ya?” tanya Polisi
“Betul pak.” jawab Bekti
“Kami akan kirimkan anggota kesana untuk mengecek aduan yang saudara laporkan.” kata Polisi lalu menutup sambungan telepon tersebut.
---
Selama Ical dan geng-nya sedang mempertanyakan maksud dari pembicaraan Joe pada walkie-talkienya. Didit telah bersiap untuk melaksanakan tugasnya bersama para serigala yang lain.“Mangsa telah terlelap, mari kita berpesta.” Ucap Didit dengan tegas tanpa basa-basi kepada para anak buahnya via walkie-talkie yang berbeda saluran dengan yang digunakan untuk berkomunikasi dengan Joe.Didit dan anak buahnya telah keluar dari tiap semak, saluran air, bahkan pepohonan sekalipun untuk merayakan pestanya. Mereka tersebar keseluruh penjuru kampung untuk memasuki tiap-tiap rumah dan merampoknya.
---
Lima belas menit setelah Bekti menelepon kantor polisi, beberapa mobil polisi telah sampai di kampung Abra. Suasana kampung begitu sepi, seperti kampung yang tak berpenghuni walaupun tiap-tiap rumah lampu tetap menyala. Perwira yang memimpin dalam penyergapan itu adalah Pak Agus berpangkat Kompol.
“Langsung cek setiap sudut-sudut kampung. Jika ada yang mencurigakan, langsung lapor.” perintah Pak Agus kepada anak buahnya.
“Siap, laksanakan!” saut anak buah pak Agus secara serentak lalu membubarkan diri untuk berpencar ke sudut-sudut kampung.
---
Salah satu anak buah Didit melihat gerombolan mobil polisi melintas menuju arah kampung Abra. Melihat hal tersebut ia langsung mengabarkan pada Didit bahwa ia melihat segerombolan mobil polisi mendekat ke arah mereka.“Alerta! Alerta! Sekelompok manusia sedang menuju ke arah kita. Selesaikan pesta!” ucap Didit dalam sambungan walkie-talkie kepada anak buahnya.Mendengar perintah Didit, para serigala pun mengakhiri pestanya dan segera keluar dari rumah warga untuk menyelematkan diri. Namun salah satu dari serigala yang sedang berlari sempat terlihat oleh polisi.
“Hey siapa kau?! Berhenti atau kutembak!” Ucap anak buah pak Agus sambil memegang gagang pistol di pinggangnya.Mendengar peringatan tersebut, serigala itu mempercepat larinya dan berusaha secepat mungkin agar tak terlihat lagi oleh anak buah pak Agus.
“Lapor komandan, ada seseorang yang mencurigakan menggunakan topeng serigala. Posisi dekat lapangan bulu tangkis!” ucap anak buah pak Agus melaporkan apa yang ia lihat.
“Seluruh unit, segera menuju ke lapangan bulu tangkis!” perintah pak Agus kepada anak buahnya.
---
Anak buah Didit yang terlihat oleh polisi telah berhasil menghindar dan sampai di titik untuk melarikan diri. Dengan nafas yang terseok-seok, ia memberitahukan kepada Didit apa yang terjadi selama perjalanannya menuju ke tempat itu. Mendengar apa yang diceritakan oleh anak buahnya, Didit segera bergegas melarikan diri---
Saat para polisi berusaha mengepung tempat itu, tempat itu amatlah gelap, mereka melihat ada gerakan mencurigakan dan terlihat sekitar 10 sampai 15 orang dibalik kain hitam yang menutupi mereka.
Pak Agus segera memerintahkan anak buahnya untuk menyergap sesegara mungkin. Dalam komando melalui walkie-talkie, pak Agus menghitung mundur. Dihitungan terakhir para polisi segera menodongkan pistolnya ke arah kain hitam tersebut dan menyuruh mereka menyerah dan mengangkat tangan. Saat para polisi berusaha mendekat, tiba-tiba saja kain itu jatuh rata dengan tanah..
---
“Dalam hitungan ke tiga, kalian akan terbangun. Saat kalian terbangun, kalian tidak akan mempercayai peristiwa perampokan yang terjadi di kampung Abra malam ini. Kalian akan menjalani hidup seperti biasanya dan tidak merasakan ada yang hilang satupun dari hidup kalian. Jika kalian paham, silahkan anggukan kepala.” Kata Joe kepada para warga kampung Abra yang berada dibawah pengaruh hipnotisnya. Para warga pun mengangguk memahami apa yang diperintahkan oleh Joe.
“3…..2……1……silahkan bangun.” ucap Joe membangunkan para warga.
Saat warga terbangun, mereka merasakan pusing yang berat dan seperti linglung. Beberapa detik kemudian mereka baru tersadar bahwa mereka sedang menyaksikan pesta perayaan puncak 17-an yang menampilkan Joe sebagai pesulap.
Joe menutup penampilannya dengan menyebutkan kata “Sempurna”. Tepuk tangan pun pecah seakan tidak terjadi apa-apa. Pesta puncak perayaan 17-an pun ditutup oleh Ilham selaku Ketua Panitia 17-an. Warga kampung Abra pun merasa terhibur atas penampilan Joe.
Keesokan paginya, kampung Kadabra pun heboh. Ical, Usep, Bekti, dan Dodi hilang. Kabar terakhir yang diketahui adalah ketika Bekti menelpon ke kantor polisi malam itu..
“Kemana orang yang kau curigai itu?” tanya pak Agus kepada anak buahnya.Dengan segera pak Agus memerintahkan anak buahnya untuk mengepung orang mencurigakan itu dibalik tembok lapangan bulu tangkis. Ia tahu bahwa dibalik tembok itu hanya jalan buntu, sehingga kemungkinan besar orang mencurigakan itu dapat dikepung segera.
“Terakhir aku lihat dia menuju ke arah tembok di balik lapangan pak, kemungkinan ia masih berada disekitar sini” anak buah pak Agus melapor.
Saat para polisi berusaha mengepung tempat itu, tempat itu amatlah gelap, mereka melihat ada gerakan mencurigakan dan terlihat sekitar 10 sampai 15 orang dibalik kain hitam yang menutupi mereka.
Pak Agus segera memerintahkan anak buahnya untuk menyergap sesegara mungkin. Dalam komando melalui walkie-talkie, pak Agus menghitung mundur. Dihitungan terakhir para polisi segera menodongkan pistolnya ke arah kain hitam tersebut dan menyuruh mereka menyerah dan mengangkat tangan. Saat para polisi berusaha mendekat, tiba-tiba saja kain itu jatuh rata dengan tanah..
---
“Dalam hitungan ke tiga, kalian akan terbangun. Saat kalian terbangun, kalian tidak akan mempercayai peristiwa perampokan yang terjadi di kampung Abra malam ini. Kalian akan menjalani hidup seperti biasanya dan tidak merasakan ada yang hilang satupun dari hidup kalian. Jika kalian paham, silahkan anggukan kepala.” Kata Joe kepada para warga kampung Abra yang berada dibawah pengaruh hipnotisnya. Para warga pun mengangguk memahami apa yang diperintahkan oleh Joe.
“3…..2……1……silahkan bangun.” ucap Joe membangunkan para warga.
Saat warga terbangun, mereka merasakan pusing yang berat dan seperti linglung. Beberapa detik kemudian mereka baru tersadar bahwa mereka sedang menyaksikan pesta perayaan puncak 17-an yang menampilkan Joe sebagai pesulap.
Joe menutup penampilannya dengan menyebutkan kata “Sempurna”. Tepuk tangan pun pecah seakan tidak terjadi apa-apa. Pesta puncak perayaan 17-an pun ditutup oleh Ilham selaku Ketua Panitia 17-an. Warga kampung Abra pun merasa terhibur atas penampilan Joe.
Keesokan paginya, kampung Kadabra pun heboh. Ical, Usep, Bekti, dan Dodi hilang. Kabar terakhir yang diketahui adalah ketika Bekti menelpon ke kantor polisi malam itu..
Komentar
Posting Komentar