Pupus

Semalam, pesta pergantian tahun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Langit tidak dipenuhi oleh pesta kembang api, tetapi diisi oleh pesta kembang air. Hujan telah turun dari pukul sepuluh malam. Tempat-tempat yang menampilkan pesta pergantian tahun pun sepi dikunjungi, yang ramai adalah halte-halte yang dipenuhi para pengguna sepeda motor yang gagal merayakan pesta tahun baru di tempat yang ingin disambangi. Tak terkecuali Rama dan teman-temannya. Satu hari sebelum tahun berganti, mereka telah merencanakan untuk berkumpul di rumah Rian. Mereka semua adalah teman sekolah di salah satu sekolah di Kota A. Karena hujan turun dengan begitu derasnya, mereka tidak dapat merayakan pesta tahun baru dengan menyalakan kembang api untuk memenuhi langit seperti biasanya. Walaupun mereka gagal untuk menyalakan kembang api yang telah dibelinya. Malam itu mereka berkumpul di halaman rumah Rian lalu duduk sambil lesehan membentuk lingkaran. Dalam lingkaran itu mereka saling menceritakan harapan-harapan yang ingin dicapai di tahun yang baru. Karena saat ini mereka adalah siswa kelas 12 yang akan segera lulus. Mereka membicarakan tentang apa yang akan mereka lakukan setelah lulus dari sekolah. 

“Semoga saja aku diterima di Universitas X” kata Rama 

 “Wah sama Ram, semoga kita bisa satu kampus ya” kata Elisa dengan semangat.

Keesokan pagi, Rama sudah berada di rumah. Ia menghampiri ibu dan ayahnya yang sedang asyik menonton salah satu acara ceramah di televisi.

“Bu, pak, doakan Rama ya. Semoga Rama diterima di Universitas X tahun ini” kata Rama 

 “Amin Ram, bapak dan ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu” balas ayah Rama Ayah 

Rama adalah pedagang gorengan di salah satu minimarket dekat rumahnya. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang kadang-kadang juga menerima pesanan membuat kue kering jika tetangga sedang mengadakan hajatan. Pada bulan Februari, tetangga Rama banyak yang mengadakan hajatan, mulai dari pesta pernikahan hingga sunatan. Otomatis ibunya mendapatkan banyak pesanan. Rama selalu membantu ibunya ketika sore hari setelah pulang sekolah. 

 “Alhamdulillah Ram akhir-akhir ini ibu dapat banyak pesanan. Semoga saja ini bisa buat tambah-tambah untuk uang kuliahmu nanti ya.” kata ibu Rama 

 “Amin, terima kasih ya Bu.” Rama mengaminkan

Akhir-akhir ini dagangan ayah Rama juga sedang laku keras. Selalu pulang tanpa membawa sisa dagangan. Dengan begitu semakin tinggi harapan Rama untuk bisa melanjutkan kuliah setelah lulus sekolah.

Awal bulan Maret, untuk pertama kalinya salah satu warga di Kota B terjangkit virus Covid-19. Media berita ramai memberitakan, membuat masyarakat begitu panik. Masker dan handsanitizer habis diborong, membuat harganya menjadi mahal karena kelangkaan. Pemerintah memberikan himbauan kepada masyarakat untuk melakukan social distancing untuk menghambat penyebaran virus.

“Ram, pendaftaran seleksi kapan?” Tanya Ayah Rama

“Dua minggu lagi yah” jawab Rama dengan nada suara yang pelan 

 “Apakah kamu bersungguh-sungguh nak untuk mengikuti seleksinya?” Tanya Ibu Rama 

 “Iya bu, aku sangat ingin masuk ke Universitas X.” jawab Rama dengan nada yakin 

Setelah melalui obrolan yang khidmat, ayah dan ibu Rama memutuskan untuk berusaha mendukung keinginan anaknya berkuliah. Selain uang pendaftaran seleksi, mereka juga harus memikirkan biaya semesteran jika Rama diterima di Universitas X.


Rama kembali ke kamarnya, lalu rebahan di atas kasurnya sambil memikirkan atas obrolan yang terjadi di depan televisi tadi. Ia merasa takut membebani kedua orang tuanya dalam kondisi ekonomi yang sedang sulit seperti ini. Namun ia sangat ingin sekali berkuliah di Universitas X, apalagi dijurusan yang sangat ia minati. Kedua matanya menitiskan air mata karena perasaan bersalahnya itu.

Pagi hari, tanpa sengaja Rama menguping pembicaraan ibunya di telepon. Ibunya sedang menelpon beberapa sanak saudaranya untuk dipinjami uang untuk keperluan kuliah Rama. Mendengar obrolan ibunya, Rama merasa semakin bersalah. Dengan pura-pura tidak mendengar, ia melewati ibunya menuju pintu keluar rumah untuk mencari udara segar di teras rumahnya. Sambil melamun di atas tempat duduk, Rama merenung memikirkan apakah sebaiknya ia tetap mengikuti seleksi itu atau tidak.

Malam harinya, ayah Rama pulang setelah selesai berdagang. Ia lihat wajah ayahnya yang begitu lelah apalagi gorengan dagangannya masih banyak tersisa. Semakin bertambah rasa bersalah Rama. Sebenarnya untuk biaya pendaftaran, Rama bisa meminjam uang terlebih dahulu ke Elisa atau Rian. Namun ia tahu, bahwa masalah selanjutnya adalah jika ia diterima di Universitas X, darimana biaya semesteran ia dapatkan sedangkan kondisi ekonomi keluarganya yang sangat sulit. Ia tak ingin ayah dan ibunya berutang, takut-takut akan semakin mempersulit dikemudian hari.

Dengan penuh kebimbangan malam itu, rama berusaha untuk membulatkan pilihannya untuk tetap melanjutkan seleksi itu atau tidak. Untuk mendapatkan jawaban jelas atas kebimbangannya, Rama melaksanakan Shalat Isthikarah. Setelah usai melaksanakan Shalat, dalam hatinya ia berbicara:

“Aku tak ingin menyusahkan ayah dan ibu. Aku tidak boleh egois karena pilihanku. Aku tahu ayah dan ibu akan mengusahakan semaksimal mungkin untukku. Tapi untuk kali ini, lebih baik aku menunda keinginanku untuk berkuliah. Aku ingin bekerja terlebih dahulu dalam setahun ini untuk membantu perekonomian keluargaku. Tahun ini harapanku pupus, tahun depan akan kutebus.” sambil kembali meneteskan air mata, yang menandai kesedihan yang mendalam.

Setelah bulat atas pilihannya, Rama memberitahukan hal tersebut kepada ayah dan ibunya. Awalnya mereka menolak atas keputusan Rama, tapi atas penjelasan Rama, mereka berdua akhirnya menerima alasan Rama untuk menunda keinginannya di tahun ini.

Komentar

Posting Komentar

Pilih Tampilan

Mau dibaca dengan tampilan yang mana?